Hari Pahlawan: Menelusuri Jejak Perjuangan La Sinrang, Pahlawan Kebanggaan Bumi Pinrang

Setiap tanggal 10 November, Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Momen ini didedikasikan untuk mengenang pertempuran heroik di Surabaya pada tahun 1945, yang menjadi simbol perlawanan sengit bangsa melawan penjajah.

Namun, pahlawan tidak hanya lahir di Surabaya. Di setiap jengkal tanah air, ada kisah perjuangan, darah, dan air mata yang ditumpahkan untuk kemerdekaan. Bagi traveler sejati, salah satu cara terbaik menghormati jasa mereka adalah dengan berwisata sejarah, menelusuri jejak perjuangan para pahlawan di daerah mereka berasal.

Kali ini, tamamtravel.id mengajak Anda terbang ke Sulawesi Selatan, tepatnya ke “Bumi Lasinrang”, julukan untuk Kabupaten Pinrang. Dari sinilah lahir seorang pejuang gigih yang menolak tunduk pada kolonialisme Belanda.

Mengenal La Sinrang, Sang “Bakka Lolona Sawitto”

Kita diperkenalkan pada sosok La Sinrang (juga dieja Lasinrang). Ia adalah Panglima Perang dari Kerajaan Sawitto (nama lama Pinrang) yang hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

La Sinrang bukanlah bangsawan biasa. Ia tumbuh dengan gemar permainan rakyat, termasuk masaung (sabung ayam). Dari kegemarannya ini, ia dikenal memiliki ayam jago (manuk baka) yang selalu menang. Keberanian dan semangat juang inilah yang membuatnya dijuluki “Bakka Lolona Sawitto,” yang dapat diartikan sebagai “Lelaki Pemberani (Jantan) dari Sawitto.”

Perang Sawitto dan Pasukan “Berani Mati”

Perjuangan La Sinrang mencapai puncaknya ketika Belanda melancarkan ekspedisi militer untuk memaksa kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan menandatangani Korte Verklaring (Pernyataan Pendek), sebuah perjanjian yang intinya adalah pengakuan kedaulatan Belanda.

Datu (Raja) Sawitto saat itu, La Tama (ayah La Sinrang), dengan tegas menolak permintaan tersebut. Akibatnya, pada sekitar tahun 1905, meletuslah Perang Sawitto.

La Sinrang, yang diangkat sebagai Panglima Perang, menunjukkan strategi yang brilian. Ia tidak melawan kekuatan penuh Belanda secara frontal. Sebaliknya, ia menggunakan taktik perang gerilya.

Kekuatan utama La Sinrang adalah pasukan khusus yang ia bentuk, bernama Pasukan Passiuno (atau Pasu Uno). Ini adalah pasukan “berani mati” yang tak kenal mundur, mirip dengan semangat kamikaze. Pasukan ini ditempatkan di titik-titik strategis dan dipimpin oleh para Tolo (pemberani). Dengan senjata tradisional seperti keris, badik, dan bambu runcing, mereka menyergap patroli Belanda di saat lengah.

Siasat Licik Belanda dan Akhir Perjuangan

Selama bertahun-tahun (sekitar 1905-1907), La Sinrang dan Pasukan Passiuno membuat Belanda kewalahan. Mereka menyerang pos-pos Belanda dan berhasil membunuh beberapa perwira penting musuh.

Karena frustrasi tidak mampu menangkap La Sinrang, Belanda menggunakan siasat licik (devide et impera). Mereka menekan keluarga La Sinrang. Puncaknya, Belanda menangkap ayahandanya, La Tama, dan istrinya, I Kancuma.

Ancaman bahwa keluarganya akan diasingkan jika ia tidak menyerah, membuat La Sinrang dalam posisi sulit. Untuk membebaskan orang tua dan istrinya, ia terpaksa masuk ke kota Pinrang. Dalam situasi terkepung itulah La Sinrang akhirnya ditangkap oleh Belanda sekitar tahun 1908.

La Sinrang kemudian diasingkan ke Banyuwangi, Jawa, selama 31 tahun. Ia baru dipulangkan ke Sawitto pada tahun 1937 dalam keadaan sakit dan lumpuh. Sang pahlawan menghembuskan napas terakhirnya pada 29 Oktober 1938.

Napak Tilas La Sinrang di Pinrang

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pinrang, kisah La Sinrang bukanlah sekadar cerita. Semangatnya hidup dalam julukan kota: Bumi Lasinrang.

Jika Anda ingin melakukan wisata sejarah di Pinrang, Anda bisa mengunjungi beberapa titik penting perjuangannya, seperti wilayah pesisir Jampue, tempat pendaratan pertama armada Belanda.

Sebagai penghormatan terakhir, wisatawan dapat berziarah ke makam La Sinrang yang terletak di Kelurahan Laleng Bata, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang.

Di Hari Pahlawan ini, kisah La Sinrang mengajarkan kita bahwa perlawanan terhadap penjajahan terjadi di seluruh pelosok negeri. Saat Anda merencanakan perjalanan berikutnya bersama tamamtravel.id ke Sulawesi Selatan, ingatlah untuk mampir ke Pinrang dan mengenang keberanian sang “Bakka Lolona Sawitto.”

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *