Ada sebuah momen yang selalu terasa campur aduk bagi setiap jemaah umrah: saat berada di ruang tunggu bandara untuk kembali ke Tanah Air. Di satu sisi, ada rindu yang membuncah untuk keluarga di rumah. Di sisi lain, ada berat hati yang luar biasa untuk meninggalkan dua kota suci, Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.
Perasaan inilah yang tergambar jelas di wajah para jemaah Umrah Tamam Travel Batch 3 (1447 H) saat menunggu penerbangan pulang di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Momen ini bukan sekadar penantian, melainkan puncak dari jalinan persaudaraan dan refleksi dari perjalanan spiritual yang baru saja mereka lalui.
Kebersamaan yang Menjadi Keluarga
Suasana di ruang tunggu lebih terasa seperti pertemuan keluarga besar daripada rombongan tur. Ada tawa hangat yang pecah saat saling menggoda, ada pelukan erat, lambaian tangan, bahkan isak tangis haru karena harus berpisah. Sembari menikmati hidangan terakhir yang disiapkan oleh tim Tamam Travel, mereka berbagi cerita dan kenangan yang tak akan terlupakan.
Perjalanan yang dimulai sebagai individu dari berbagai latar belakang telah menyatukan mereka menjadi sebuah keluarga baru. Inilah esensi dari sebuah perjalanan ibadah yang mabrur—tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi sesama hamba-Nya.
Testimoni dari Hati Sang Seniman, Dharman Sanrego
Di tengah keramaian itu, ada satu sosok yang tak asing lagi bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di Pinrang. Beliau adalah Dharman Sanrego, seorang penyanyi dan pencipta lagu Bugis ternama yang dikenal melalui lagu hits-nya “Tania Ana’na Pu’katte”. Dengan wajah yang berseri-seri pasca-umrah, beliau berbagi kesannya dengan penuh tulus.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya sangat-sangat berterima kasih kepada Tamam Travel yang telah membawa saya ke Tanah Suci untuk umrah,” ujarnya dengan senyum yang tulus.
Lebih dari sekadar ucapan terima kasih, Dharman Sanrego juga mengungkapkan harapan terbesarnya setelah perjalanan ini, sebuah refleksi yang sangat personal dan menyentuh.
“Semoga saya bisa berubah… Dunia saya, dunia entertainment, ini penuh dengan banyak cobaan. Semoga hidayah-Nya tercurahkan. Dan semoga teman-teman seniman saya di Pinrang nanti, insya Allah, kena semuanya (bisa berangkat umrah),” lanjutnya dengan nada penuh harap.
Kesaksian ini bukan hanya tentang kepuasan terhadap pelayanan, tetapi tentang bagaimana perjalanan umrah menjadi titik balik, sebuah momen untuk introspeksi diri dan berharap menjadi pribadi yang lebih baik.
“Ingat Umrah, Ingat Tamam!”
Di akhir testimoninya, Dharman Sanrego secara spontan mengucapkan sebuah kalimat yang disambut riuh oleh jemaah lain:
“Ingat Umrah, Ingat Tamam! Mantap!”
Kalimat singkat ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah penegasan dari kepuasan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh seluruh rombongan. Ini adalah bukti bahwa pelayanan yang tulus, bimbingan ibadah yang menyentuh, dan perhatian terhadap setiap detail akan selalu meninggalkan jejak mendalam di hati para tamu Allah.
Setiap Perjalanan Punya Kisah
Setiap jemaah pulang membawa kisahnya masing-masing—kisah tentang pengampunan, harapan, dan persaudaraan. Momen di Bandara Jeddah ini adalah epilog yang indah dari perjalanan spiritual mereka.
Terima kasih kepada seluruh jemaah Umrah Batch 3 – 1447 H atas kepercayaan yang diberikan. Kisah dan senyum Anda adalah energi terbesar bagi kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik.
Apakah Anda siap menulis kisah spiritual Anda sendiri di Tanah Suci?
